(Contoh) Memahami Nilai Ct pada Hasil Tes PCR

Pandemi COVID-19 membuat kita sering mendengar berbagai macam istilah laboratorium. Nah, istilah yang paling sering dibahas saat ini adalah nilai Ct pada hasil tes PCR. Lalu, sebenarnya apa sih nilai Ct itu? 

Salah satu pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis COVID-19 (Coronavirus Disease 2019) adalah mendeteksi material genetik dari virus penyebab Corona, yaitu virus SARS CoV-2, melalui tes amplifikasi asam nukleat (NAAT/Nucleic Acid Amplification Testing). Misalnya seperti real time reverse-transcription polymerase chain reaction (rRT-PCR) dan Isothermal PCR (iiPCR dan RT LAMP). 

Sasaran asalnya mencakup bagian-bagian gen E, ORF, RdRP, N, dan S. Menurut panduan interim WHO, diagnostik yang optimal setidaknya mendeteksi 2 target gen. Namun, di wilayah-wilayah dengan persebaran COVID-19 secara meluas, algoritma sederhana dengan satu target gen dapat digunakan. 

Pada tes amplifikasi asam nukleat (NAAT) dengan metode rRT-PCR, hasil deteksi gen tersebut berupa nilai Ct (Cycle threshold), yang juga disebut dengan Cn (Cycle number) atau Cq (Cycle quantity). Sedangkan pada metode isothermal, hasil deteksi genberupa light ratio

Setiap alat dan reagen mempunyai karakteristik dan cut off nilai Ct yang berbeda. Ada yang menggunakan nilai cut off Ct>30 sebagai hasil negatif, ada yang menggunakan nilai cut off Ct>35, >40, maupun >45. Oleh karena itu, interpretasi nilai Ct harus dilakukan dengan hati-hati. 

Nilai Ct bukanlah nilai kuantitatif, tetapi berbanding terbalik dengan banyaknya virus yang ada pada spesimen yang diperiksa. Nilai Ct adalah banyaknya cycle saat grafik fluorescens menembus garis threshold. Semakin tinggi kadar virusnya, semakin cepat menembus garis threshold, sehingga nilai Ct-nya lebih kecil dibanding dengan spesimen dengan kadar virus yang lebih rendah.

sumber : https://www.halodoc.com/artikel/kata-dokter-memahami-nilai-ct-pada-hasil-tes-pcr