RS Maranatha

Upaya menekan angka kebutaan akibat katarak terus dilakukan melalui berbagai kolaborasi lintas sektor. Rumah Sakit Maranatha Bandung belum lama ini menggelar kegiatan bakti sosial operasi katarak gratis yang berhasil melayani sekitar 200 mata pasien. Kegiatan ini terlaksana berkat kerja sama dengan PT Sido Muncul dan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami).

Tidak hanya di Bandung, aksi serupa juga berlangsung di Majalengka pada 7 Februari 2026 melalui kolaborasi Kementerian Sosial dan Perdami. Dalam kegiatan tersebut, sekitar 150 pasien mendapatkan layanan operasi katarak. Dokter spesialis mata RS Maranatha sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, dr. Abraham Sutjiono, Sp.M., FIACLE, turut terlibat langsung sebagai tenaga medis.

Direktur Utama RS Maranatha, dr. Ferdinan Sutejo, MMR, menegaskan bahwa katarak merupakan persoalan yang dampaknya melampaui aspek kesehatan semata. Menurutnya, gangguan penglihatan akibat katarak dapat memengaruhi produktivitas, kemandirian, hingga kualitas hidup penderitanya.

“Melalui kegiatan bakti sosial ini, kami berharap bukan hanya penglihatan pasien yang pulih, tetapi juga rasa percaya diri, kemandirian, serta harapan mereka untuk kembali beraktivitas secara normal,” ujarnya saat kegiatan bakti sosial bersama Sido Muncul, 2 Februari 2026.

Sementara itu, Direktur PT Sido Muncul, Dr. (H.C.) Irwan Hidayat, mengungkapkan bahwa sejak tahun 2011 pihaknya bersama Perdami dan sejumlah rumah sakit mitra telah membantu operasi lebih dari 57 ribu mata. Ia juga menyoroti fakta bahwa setiap tahunnya Indonesia menghadapi penambahan sekitar 280 ribu kasus katarak baru.

Meningkatnya jumlah penderita katarak juga menjadi perhatian kalangan akademisi dan tenaga medis. dr. Abraham Sutjiono menjelaskan bahwa pertambahan kasus katarak dari tahun ke tahun belum diimbangi dengan kapasitas layanan operasi yang memadai, sehingga angka penderita terus bertambah.

Ia menambahkan bahwa faktor usia menjadi penyebab utama meningkatnya kasus katarak. Peningkatan angka harapan hidup masyarakat Indonesia, meski menjadi indikator kesejahteraan, turut berdampak pada bertambahnya jumlah penderita katarak.

“Seiring bertambahnya usia harapan hidup, jumlah masyarakat yang berisiko mengalami katarak juga meningkat. Ini menjadi tantangan bersama yang harus dihadapi,” jelasnya.

Menurut dr. Abraham, salah satu langkah strategis untuk menekan angka katarak adalah memperkuat sinergi antara masyarakat, organisasi profesi, dunia usaha, dan pemerintah. Namun, pelaksanaan operasi katarak gratis masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan fasilitas kesehatan, tenaga medis, hingga akses pendanaan bagi masyarakat.

“Tidak semua daerah memiliki rumah sakit yang mampu melakukan operasi katarak, dan tidak semua pasien memiliki kemampuan finansial untuk menjalani tindakan medis tersebut. Di sinilah peran bakti sosial menjadi sangat penting,” tuturnya.

Ia pun mengajak berbagai pihak untuk terus berkontribusi dalam upaya menurunkan angka kebutaan akibat katarak di Indonesia melalui aksi nyata dan kolaborasi berkelanjutan.